Pentingnya Meningkatkan Kemampuan Literasi Digital di Era Post Truth

Saat ini teknologi digital sudah semakin berkembang pesat. Segala aktivitas baik bekerja, belajar, belanja dan aktivitas lainnya juga sudah menggunakan teknologi digital. Oleh karena itu masyarakat perlu meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi-teknologi digital tersebut agar tidak terlindas oleh kemajuan teknologi yang setiap harinya semakin meningkat. Namun, hal tersebut juga harus diimbangi dengan kemampuan berliterasi digital yang baik agar kita terhindar dari dampak negatif teknologi digital tersebut.

ilustrasi seseorang sedang mencari informasi di media digital
sumber: freepik.com/media-digital

Terutama di era Post Truth saat ini, perlu bagi kita untuk lebih meningkatkan kemampuan literasi digital. Segala bentuk berita hoax saat ini banyak tersebar di media digital seperti media sosial. Oleh karena itu agar kita dapat terhindar dari berita hoax tersebut kita harus meningkatkan kemampuan berliterasi digital. Lalu, apa sebenarnya era post truth tersebut?

Era Post Truth: Pasca Kebenaran

Secara bahasa, post truth terdiri dari 2 kata yaitu post yang berarti setelah dan truth yang merupakan kata benda dari kata sifat true yang berarti kebenaran. Sehingga era post truth atau era pasca kebenaran berarti suatu masa yang terjadi dimana akal menjadi landasan dalam kebenaran dan fakta seakan-akan tak penting dalam mempengaruhi opini, pemikiran, maupun perilaku publik. Dalam hal ini publik lebih tertarik dengan hal-hal yang menghebohkan misalnya sebuah berita hingga hal-hal yang dapat menyentuh perasaan.

era post truth
su,mber: https://dianns.org/wp-content/uploads/2020/09/project_20200909_1624586-01-1024×1024.png

Sebenarnya istilah post truth ini pertama kali digunakan oleh seorang jurnalis keturunan Amerika-Serbia dalam artikelnya di surat kabar The Nation tahun 1992 namun mulai populer di tahun 2016. Hingga akhirnya istilah ini sering digunakan salah satunya di Indonesia.

Meningkatkan Literasi Digital di Era Post Truth

Perkembangan teknologi digital saat ini semakin pesat. Segala hal dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital tersebut. Salah satunya adalah dalam mengakses informasi. Informasi-informasi yang disajikan tentunya sangat beragam baik dari dalam negeri maupun dalam negeri hingga yang bersifat benar ataupun bohong. Berita-berita kebohongan tersebut biasa disebut dengan hoax. Hoax dapat diartikan sebagai berita atau informasi palsu yang secara sengaja disebarkan oleh pihak-pihak tertentu dengan tujuan untuk menyulut kebencian, ketegangan bahkan parahnya dapat menimbulkan sebuah konflik. Berita hoax yang disampaikan biasanya berupa sebuah narasi yang dibuat secara berlebihan, membesar-besarkan suatu perkara namun sangat minim akan fakta yang dapat mendukung berita tersebut.

stop penyebaran berita hoax
sumber: https://static.arenalte.com/uploads/2017/02/berita-hoax-2.jpg

Berita-berita hoax tersebut saat ini banyak kita jumpai tersebar di media digital seperti media sosial. Karena saat ini media sosial menjadi media digital yang paling banyak digunakan oleh masyarakat sehingga pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut sering menyebarkan berita-berita hoax di media sosial. Hal inilah yang menjadi salah satu pengaruh dari era post truth dimana objektivitas dan rasionalitas telah diabaikan dan publik lebih percaya kepada sikap sensasional dan emosional. Berita hoax atau penyebaran informasi-informasi palsu tersebutlah sebagai sarananya.

Oleh karena itu, sebagai pengguna media digital yang cerdas perlu bagi kita untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Literasi digital bukan hanya sekedar mampu memahami sebuah makna tulisan yang ada di media digital saja. Tetapi literasi digital juga berarti kita mampu memahami, menggunakan serta memanfaatkan media- media digital tersebut. Literasi digital menjadi solusi dalam menghadapi era post truth saat ini.

Sobat layar baca yuk jadi kita sama-sama menjadi pengguna media sosial yang cerdas dengan tidak sembarangan mengonsumsi informasi-informasi palsu atau hoax  dan menyebarkannya begitu saja.  Membaca terlebih dahulu, pahami isinya, pastikan apakah sumber yang digunakan akurat atau tidak lalu setelah itu sebarkan jika informasi tersebut kamu anggap penting bagi orang lain.

Baca Juga: Biar Tidak Kebiasaan, Kenali Oversharing dan Bagaimana Mencegahnya

Sumber

Ulya. (2018). Post-Truth, Hoax, dan Religiusitas di Media Sosial. Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, 6(2), 283-302.

Ade Liza Maulitaya. Perempuan kelahiran Pematangsiantar, Sumut 18 Juni 2001 ini menyukai dunia membaca dan menulis sejak dulu. Meski dulunya hanya suka menulis karangan bebas hasil imajinasinya. Keinginan terbesarnya saat ini menulis sebuah buku lalu diterbitkan. Jika ingin lebih kenal lagi bisa hubungi di ig @adlizamlty.

 

Author: Ade Liza Maulitaya

Ade Liza Maulitaya. Perempuan kelahiran Pematangsiantar, Sumut 18 Juni 2001 ini menyukai dunia membaca dan menulis sejak dulu. Meski dulunya hanya suka menulis karangan bebas hasil imajinasinya. Keinginan terbesarnya saat ini menulis sebuah buku lalu diterbitkan. Jika ingin lebih kenal lagi bisa hubungi di ig @adlizamlty.

1 thought on “Pentingnya Meningkatkan Kemampuan Literasi Digital di Era Post Truth

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: