Oversharing: Menahan Privasi atau Validasi Diri

Penulis : Nursyakila Sahupala

Pernahkah kamu menemukan postingan-postingan di media sosial yang menunjukan bahwa ada seseorang yang tengah berlibur bersama keluarganya? Atau postingan-postingan tentang peliharaan baru, barang-barang baru, lokasi rumah, denah rumah, hingga aktivitas yang dilakukan dari pagi hingga bertemu pagi lagi? Sudah sering kamu temukan, bukan?

Hal ini sebenarnya wajar, mengingat manusia memiliki sifat “jurnalis” dalam dirinya yang senang untuk membagikan informasi apa saja kepada orang lain. Akan tetapi, dalam batasan tertentu postingan-postingan tersebut bisa dianggap berlebihan oleh beberapa orang. Sifatnya yang subjektif membuat fenomena ini sering diacuhkan atau bahkan tidak diketahui sama sekali. Padahal oversharing sebenarnya bisa sangat berbahaya.

Ya, fenomena tadi disebut dengan oversharing. Di mana kita disudutkan akan dua pilihan, antara membagi privasi atau hanya sekadar meminta validasi dari orang lain. Oversharing sendiri dapat diartikan dengan kegiatan terlalu banyak atau terlalu sering membagikan kehidupan pribadi lewat media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, atau Path. Berbagi yang dimaksud di sini bisa berupa memamerkan aktivitas harian atau sekadar iseng.

Media sosial
Ragam media sosial yang dapat diakses melalui telepon genggam. Sumber foto: Tracy Le Blanc from Pexels

Umumnya, oversharing disebabkan karena dua hal. Pertama, ingin mendapatkan perhatian. Keinginan untuk dipuji akan memantik seseorang untuk membagikan informasi yang berlebih. Perhatian dan tanggapan positif dari orang lain akan membuat informasi yang dibagikan semakin tidak terkontrol. Misalnya, kamu menceritakan keseharianmu saat berlibur ke suatu tempat, hingga akhirnya kamu membagikan informasi mendetail yang seharusnya tidak diceritakan kepada semua orang. Itulah yang dinamakan dengan oversharing.

 

Kedua, self-esteem yang rendah. Di mana seseorang memandang buruk dirinya sendiri. Ciri-ciri yang kentara adalah pesimis, tidak puas dengan diri sendiri, ingin menjadi seperti orang lain, dan memandang negatif terhadap apa yang sudah dimiliki. Misalnya, kamu merasa iri karena teman memiliki ponsel yang lebih bagus dari milikmu, lalu untuk menutupi rendahnya self-esteem tadi, maka kamu memaksakan diri untuk membeli ponsel yang sama dan mengunggahnya di media sosial. Informasi yang dibagikan itu disebut dengan oversharing.

Sebagian orang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah bisa menemukan kesenangan saat berbagi informasi tentang dirinya kepada orang lain di media sosial. Hal ini bisa berlangsung terus menerus dan akan menjerumuskan seseorang ke dalam “kejahatan” oversharing.

selalu sharing kegiatan pribadi
Sumber : freepik

Dampak negatif dari oversharing bermacam-macam, utamanya adalah informasi yang dianggap sebagai masalah pribadi malah tersebar. Lalu, apa saja dampak negatif dari oversharing? Berikut adalah penjelasannya:

  1. Privasi Tersebar

Privasi sudah seharusnya dijaga dengan baik agar tidak sampai tersebar ke mana-mana. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang sampai lupa diri saat berbagai informasi pribadi miliknya. Hal ini disebabkan karena perilaku oversharing yang terus menerus menyebabkan seseorang tidak bisa lagi membedakan antara informasi pribadi dan informasi yang bisa dikonsumsi oleh publik. Ironisnya, hal ini akan dimanfaatkan orang-orang yang berniat jahat karena sudah mengetahui kelemahan-kelemahanmu.

 

  1. Terjerat Toxic Positivity

“Tidak usah dipikirkan, itu masalah kecil. Bisa diselesaikan lain hari.”

Jika ada masalah baik besar ataupun kecil sebaiknya segera diselesaikan sebelum bertambah parah. Rehat dilakukan bukan untuk menunda pemecahan masalah, akan tetapi jeda agar tidak terlalu terbebani. Jika kamu pernah menemukan kalimat atau percakapan di atas dari seseorang yang baru saja mendengar atau melihat keluh kesahmu, maka berhati-hatilah. Itu merupakan ungkapan toxic positivity. Kalimat saran atau motivasi berlabel menenangkan tapi akan membuat masalah di kemudian hari. Toxic positivity juga bisa timbul akibat berbagi informasi secara berlebihan.

 

  1. Risiko Kesehatan Mental

Dapat dipastikan bahwa tidak semua orang akan merespon baik segala hal yang kamu bagikan. Sebagian orang pasti akan memandang atau menanggapinya secara negatif. Hal ini akan membentuk rasa cemas, kekhawatiran, stres, hingga depresi dalam dirimu. Padahal perilaku oversharing timbul karena seseorang bisa menjadi terlalu sensitif terhadap kritik orang lain.

perempuan menutup wajahnya
ilustrasi perempuan yang ketakutan. (sumber: mart productions di Pexels)

Itulah sebagian kecil dampak negatif dari perilaku oversharing. Jika tidak mau hal-hal di atas terjadi padamu, maka mulailah untuk berhenti membagikan aktivitas atau kepemilikan kita secara berlebihan di media sosial. Ingat batasan, karena tidak semua orang bisa menerima apa yang kamu bagikan. Sebagai gantinya, cobalah cari media yang lebih baik untuk berbagi informasi atau menuangkan curahan isi hati.

Baca Juga : Biar Tidak Kebiasaan, Kenali Oversharing dan Bagaimana Mencegahnya

Sumber:

 

Nursyakila Sahupala, Capricorn yang menyukai dunia kepenulisan. Mari saling terhubung @dec_syasyaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: