Stop Book Shaming, Membaca Bukan Ajang Pamer agar Terlihat Keren

Pernahkah kamu mendengar kata book shaming? Ternyata bukan hanya body shaming dalam dunia perbukuan ada juga dikenal dengan istilah book shaming. Istilah ini muncul karena seseorang yang sering men-judge bacaan orang lain dengan seenaknya. Padahal kita tahu bahwa selera membaca setiap orang pasti berbeda. Setiap orang akan memiliki gaya membacanya tersendiri. Untuk mengetahui lebih lanjut apa itu book shaming, yuk baca ulasan singkatnya dibawah ini.

Book Shaming yang Sering Terjadi di Dunia Literasi

Istilah book shaming merujuk pada orang-orang yang suka mengakimi bacaan orang lain karena menurutnya bacaan tersebut tidak akan memberikan hal yang diinginkannya. Hal ini biasanya terjadi saat orang lain merasa bacaannya lebih bagus dan tentunya memberikan banyak manfaat baginya. Hingga ketika ada orang lain yang membaca buku berbeda dengannya, ia akan men-judge orang tersebut dengan menghina bacaannya.

ilustrasi perilaku book shaming sumber : https://www.freepik.com/free-photo/caucasian-woman-being-bullying-from-other-girls_2791441.htm#query=bullying&position=13&from_view=search

Contoh kasus yang sering kita lihat adalah ketika ada orang yang bertanya kepada kita, “apa yang kamu dapatkan saat membaca buku fiksi”. Hal tersebut sempat menjadi salah satu pembahasan yang hangat. Pertanyaannya, apakah pertanyaan tersebut termasuk ke dalam book shaming? Ya jelas sekali itu termasuk salah satu book shaming yang sering kita lakukan tanpa pernah kita sadari. Membandingkan bahan bacaan orang lain dengan bacaan kita termasuk tindakan book shaming yang paling sering terjadi dan tanpa kita sadari sering kita lakukan.

Setiap Orang Memiliki Gaya Membaca yang Berbeda

Setiap bacaan pasti memiliki dampak pada kita baik itu bacaan fiksi maupun non fiksi. Karena membaca adalah salah satu kegiatan yang dapat membantu kita untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan kita. Namun, saat ini masih banyak orang yang kurang memahami bahwa membaca bukan berarti harus membaca buku yang tebal dengan ratusan halaman. Membaca harus buku-buku yang memiliki bahasan yang berat dan kadang sulit dipahami. Tetapi membaca dapat dilakukan dengan membaca apa saja yang kita inginkan.

ilustrasi buku fiksi
sumber : https://www.freepik.com/search?format=search&query=fiction+book&type=photo

Namun mirisnya masih banyak oknum yang sering men-judge seseorang hanya dari bacaannya saja. Orang-orang yang suka membaca buku atau cerita fiksi sering diremehkan karena masih banyak yang menganggap cerita fiksi hanya khayalan penulis. Padahal didalam cerita fiksi tersebut banyak terdapat nilai-nilai yang dapat kita petik. Orang menganggap bahwa cerita non fiksi lebih berbobot dengan banyak insgiht yang akan kita dapatkan setelah membacanya.

Seperti saat ini, buku-buku dengan tema self improvement banyak dicari orang-orang karena banyak penulis yang menuangkan idenya dalam tulisan tersebut yang sangat relate dengan kehidupan saat ini. Buku-buku tersebut dinilai memberikan banyak insight bagi para pembacanya. Tidak salah jika kita memiliki opini seperti itu jika memang kita suka membaca buku dengan tema tersebut. Namun salah jika kita merasa sok pintar setelah membaca buku tersebut dan melakukan tindakan book shaming terhadap bacaan orang lain. Lalu, apa dampak dari tindakan book shaming  tersebut terutama bagi para korbannya?

buku self improvement best seller
sumber : https://riliv.co/rilivstory/wp-content/uploads/2020/09/filo.jpg

Insecure : Dampak dari Tindakan Book Shaming

Ya, salah satu dampak yang akan terjadi pada korban tindakan book shaming tersebut adalah merasa insecure dengan bacaannya. Korban akan merasa jika buku yang dibacanya bukanlah bacaan kekinian yang banyak dicari orang lain. Korban akan merasa buku bacaannya tidak dapat memberi insight bagi orang lain. Tindakan ini dapat berdampak juga pada hilangnya minat baca seseorang karena merasa bacaannya tidak dihargai oleh orang lain.

ilustrasi korban book shaming
sumber : https://www.freepik.com/free-photo/closeup-cheerful-young-male-student-with-braces-wears-beige-shirt-study-using-laptop-computer-notebooks-sitting-table-isolated-white-wall_10625801.htm#query=insecure&position=7&from_view=search

Baca Juga : Ulasan Buku Karya Alvi Syahrin: “Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa”

Sangat berbahaya bukan? Ya tentu saja sangat berbahaya. Tindakan yang kamu anggap sepele pun dapat membawa dampak yang besar bagi orang lain salah satunya tindakan book shaming tersebut. Oleh karena itu, yuk sobat layar baca sama-sama kita stop tindakan book shaming terhadap bacaan orang lain. Hargai bacaan orang lain karena membaca bukan ajang pamer bahan bacaan agar dinilai keren. Tetapi membaca adalah ajang menambah ilmu, pengetahuan serta wawasan bagi kita. Stop book shaming hargailah bacaan orang lain.

 

 

Ade Liza Maulitaya. Perempuan kelahiran Pematangsiantar, Sumut 18 Juni 2001 ini menyukai dunia membaca dan menulis sejak dulu. Meski dulunya hanya suka menulis karangan bebas hasil imajinasinya. Keinginan terbesarnya saat ini menulis sebuah buku lalu diterbitkan. Jika ingin lebih kenal lagi bisa hubungi di ig @adlizamlty.

 

Author: Ade Liza Maulitaya

Ade Liza Maulitaya. Perempuan kelahiran Pematangsiantar, Sumut 18 Juni 2001 ini menyukai dunia membaca dan menulis sejak dulu. Meski dulunya hanya suka menulis karangan bebas hasil imajinasinya. Keinginan terbesarnya saat ini menulis sebuah buku lalu diterbitkan. Jika ingin lebih kenal lagi bisa hubungi di ig @adlizamlty.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: